Guru Bahasa Indonesiaku pernah berkata bahwa jika kamu sedang sedih maka kamu dapat membuat berpuluh-puluh puisi, sedangkan jika kamu sedang senang terkadang satu puisi pun tak terselesaikan.
Mungkin aku setuju dengan apa yang beliau katakan, mungkin juga tidak karena ketika sedang bahagia, aku bisa membuat puisi tentang kebahagiaan meskipun tak sebagus jika aku sedang sedih.
Jika aku sedang sedih, aku hanya dapat membuat satu puisi, namun puisi tersebut mengungkapkan apa yang aku rasakan. Sehingga seluruh kesedihanku aku tumpahkan pada puisi tersebut. Dan jika aku selesai membuatnya, setidaknya tujuh puluh persen dari kesedihan yang aku rasakan bisa terangkat. Itu hal yang paling efektif ketika kamu tidak bisa mengungkapkan secara langsung apa yang kamu rasakan, meskipun tidak sebanding dengan mengungkapkan secara langsung.
Jujur saja, aku lebih suka mengungkapkannya lewat tulisan karena aku bisa menuliskan apapun yang aku rasakan, entah itu kasar ataupun halus. Dan ingat, hal yang paling menyakitkanmu adalah ketika kamu tidak bisa mengungkapkan apa yang kamu rasakan. Kamu harus menyimpannya sampai kamu menyadari bahwa kamu telah mati rasa karena perbuatanmu sendiri.
Kenapa hal tersebut menjadi sangat menyakitkan?
Karena disaat kamu sedang sedih atau senang, setidaknya kamu mengungkapkan apa yang kamu rasakan, entah itu melalui curahan hati atau tulisan. Terutama jika kamu sedang sedih, kamu harus mengungkapkannya karena jika tidak, itu akan membuat dadamu sesak dan tenggorokanmu tersendat.
Ada satu hal efektif untuk mengungkapkan kesedihanmu, yaitu dengan menangis. Menangislah selama kamu bisa, karena itu dapat mengangkat bebanmu, menangislah selama kamu bisa, karena air mata dapat membersihkan pupil matamu, menangislah selama kamu bisa karena dengan menangis kamu belajar untuk tidak melakukan hal bodoh untuk kesekian kalinya.
No comments:
Post a Comment